DYAH MUNGPANG PENGUASA MALANG KUNO 915-935 MASEHI

Bisakah peristiwa yang telah terjadi sepuluh abad silam diungkapkan kembali? Bagi orang awam, tampaknya mustahil untuk mengetahui sejarah Malang yang telah melalui kurun waktu lebih dari seribu tahun silam. Pertanyaan yang mungkin muncul berikutnya adalah bagaimana kita dapat mengetahui keadaan di abad itu, sementara kita sekarang sudah berada lebih dari sepuluh abad meninggalkan peristiwa-peristiwa itu. Pertanyaan-pertanyaan itu dapat diupayakan jawabannya dengan bantuan arkeolog atau sejarawan berspesalisasi studi masa silam. Seorang arkeolog atau sejarawan, khususnya yang menggeluti bidang sejarah kuno dapat memberikan jawaban atas pertanyaan itu melalui kemampuannya mendayagunakan sumber-sumber sejarah khususnya sumber tertulis. Sekalipun bila ada sumber tidak tertulis seperti benda-benda peninggalan masa kuno (artefak), antara lain candi dengan segala atributnya, arca-arca, bekas pemukiman kuno, dapat juga memberikan informasi tambahan yang kadang tidak kalah penting artinya di samping sumber tertulis.
       Dalam tulisan pendek ini hendak disajikan contoh pendayagunaan salah satu sumber tertulis yang berupa prasasti. Adapun pemilihan prasasti sebagai satu-satunya sumber tulisan ini disebabkan unutk membedah tabir sejarah kota Malang Kuno sesuai dengan judul di atas, hnya prasastilah yang dapat diandalkan. Adapun dalam proses mendapatkan informasi atau data yang dibutuhkan, seorang sejarawan tidak dapat secara gegabah mencomot teks prasasti kemudian diterjemahkan. Sebabnya, prasasti bukan sekedar catatan atau dokumen peristiwa dari masa silam melainkan di dalamnya terdapat simbol-simbol yang mutlak dipahami terlebih dahulu sebelum menanggapnya sebagai data. Hal seperti ini yang orang awam tidak mampu melakukannya.
       Kiranya sangat menarik membicarakan kehidupan Malang di waktu yang (sangat) silam. Berbagai pertanyaan dapat muncul da memenuhi benak kita karena ingin mengetahui apa yang terjadi pada masa-masa itu. Pikiran semacam ini menggelitik penulis untuk menyajikan sekelumit kisah yang menarik tentang seorang tokoh penting yang hidup pada awal abad X di Malang. Tokoh itu bernama Dyah Mungpang, lengkapnya Rakryan Kanuruhan Dyah Mungpang. Ia adalah seorang rake atau rakryan, penguasa tunggal suatu ke-rake-an (watek).
       Nama Dyah Mungpang setidaknya disebut di dalam empat buah prasasti, yaitu Prasasti Limus 915, Prasasti Gulung-gulung 929, Prasasti Linggasuntan 930, dan Prasasti Kanuruhan 934. Penggunaan nama dyah di muka nama tokoh ini dari sudut pandang sosiologi Jawa Kuno menunjukkan bahwa ia adalah seorang bangsawan. Lebih jelasnya dapat dikatakan bahwa pemilik nama ini adalah seorang pejabat lokal yang menjadi penguasa tunggal di wilayah Malang Kuno yang pada waktu itu masih bernama watek Kanuruhan. Adapun pengertian watek adalah sepadan dengan propinsi dalam pengertian sekarang. Seorang penguasa watek tidak ubahnya seorang raja dari suatu kerajaan yang menjadi bagian dari kerajaan lain yang jauh lebih besar. Dengan lain perkataan, suatu watek dapat dianggap sebagai atau dapat berasal dari kerajaan bawahan.
       Menurut J.G. de Casparis, seorang ahli epigrafi, munculnya nama Kanuruhan adalah akibat proses perubahan bunyi dari Kanjuruhan. Nama yang terakhir ini adalah nama kerajaan kuno yang pernah hidup di Malang sekitar abad VIII Masehi. Keberadaan kerajaan kuno ini diketahui dari satu-satunya prasasti yang ditinggalkan oleh salah seorang rajanya bernama Gajayana, yaitu Prasasti Dinoyo 760 Masehi. Bila pernyataan atau dugaan Casparis ini benar, dapat dikatakan bahwa pada saat Dyah Mungpang berkuasa di Kanuruhan, wilayahnya telah menjadi daerah bawahan dari kerajaan lain. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketika masih bernama Kanjuruhan, kerajaan ini berdiri sendiri tanpa ikatan apalagi sebagai negara bawahan dari kerajaan lain. Sementara itu setelah menyandang nama Kanuruhan, wilayah ini tidak lagi menjadi kerajaan yang merdeka ditandai dengan perubahan status menjadi watek. Artinya, menjadi bagian dari suatu kerajaan lain yang tentunya lebih besar. Sebaliknya bila dugaan itu salah dapat muncul kemungkinan lain, yaitu tidak ada hubungan antara nama Kanuruhan dengan Kanjuruhan. Artinya sejak semula telah ada suatu wilayah yang bernama Kanuruhan.
       Dari sejumlah prasasti yang dikeluarkan pada awal abad X, diketahui bahwa wilayah Kanuruhan pada waktu itu telah menjadi bagian dari kerajaan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah. Sejak tahun 929, Kerajaan Mataram telah memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur dengan mendirikan kraton di tepian Sunagi Brantas di sekitar Jombang, yaitu Watu Galuh dan Tamwlang. Raja yang memindahkan pusat pemerintahan itu adalah Pu Sindok. Dyah Mungpang setidaknya berkuasa di Kanuruhan selama 20 tahun (915-935). Selama berkuasa, ia menjadi salah satu tangan kanan Raja Sindok dan mendapatkan kedudukan politis yang strategis di dalam sistem pemerintahan Karajaan Mataram. Hal ini terlihat dari keterangan sejumlah prasasti dari Pu Sindok yang menyebut rakryan kanuruhan sebagai pejabat utama dalam Dewan Penasihat Raja (tanda rakryan ri pakirankiran). Kedudukannya itu kiranya sesuai dengan status asalnya sebagai seorang penguasa lokal di Kanuruhan yang merdeka.
        Wilayah kekuasaan Dyah Mungpang dengan kedudukan penguasa watek kurang lebih sama dengan wilayah Kabupaten Malang dewasa ini. Adapun sentra pemerintahan ditempatkan di sekitar Singosari sekarang. Dasar asumsi ini adalah ditemukannya sejumlah prasasti di wilayah Singosari yang berhubungan dengan Rakryan Kanuruhan Dyah Mungpang. Dari Prasasti Balingawan 891 diketahui bahwa pendahulu Dyah Mungpang yang bernama Pu Huntu selaku penguasa watek Kauruhan, telah membawahi wilayah Kecamatan Pakis sekarang. Informasi ini diperoleh melali pemahaman adanya perubahan bunyi toponim Balingawan menjadi Mangliawan, salah satu desa di Kecamatan Pakis. Di desa ini terdapat sejumlah situs arkeologis yang berasal dari abad X, antara lain situs Wendit Lanang (sekarang makam Islam Mangliawan) dan Wendit Wadon (pemandian Wendit).
       Pada masa pemerintahan Dyah Mungpang di Kanuruhan pernah dibangun sebuah taman atau kebun bunga yang istimewa berlokasi di sekitar Desa Bunulrejo sekarang. Keistimewaan taman bunga itu terdapat pada fungsinya sebagai pemasok bunga untuk penyelenggaraan upacara-upacara keagamaan di wilayah Kanuruhan. Di mana lokasi tepatnya taman bunga itu sekarang, kiranya tidak mudah untuk diketahui. Sitidaknya masih terekam dalam benak masyarakat Desa Bunul akan mitos Mbah Beji Sari. Dari nama ini masih dapat diwarisi kata sari yang berarti bunga. Hal ini memberikan petunjuk ke arah identifikasi lokasi taman bunga itu, mengingat mitos Mbah Beji Sari ini kiranya memiliki hubungan erat dengan isi Prasasti Kanuruhan. Dengan alasan itu dapat diajukan dugaan bahwa lokasi taman bunga itu adalah sekitar bekas kekeramatan Mbah Beji Sari di Bunul. Keterangan yang menarik ini tersimpan dalam teks Prasasti Kanuruhan 934 yang sekarang berada di Taman Senaputra Malang.
       Hal-hal positif yang dapat diteladani dari tokoh Dyah Mungpang ini antara lain komitmennya yang kuat akan terhadap profesi dan ketaatannyayang tinggi dalam beragama. Hal ini terbukti dengan diserahkannya jabatan strategis kepadanya untuk waktu yang lama, dan besarnya perhatian yang diberikan untuk masalah-masalah keagamaan sebagaimana disinggung terdahulu.

Oleh Ismail Lutfi, Mimbar Malangkuseswara Februari 1997

0 komentar:

Poskan Komentar

About this blog

Aku memandang suka dan duka
Berganti-ganti di dalam hati

Apa gerangan masa di muka
Jadi bangsa yang kucinta ini
Adakah tanda megah kembali
(Sanusi Pane, Puspa Mega)

My Blog List

Consectetuer

Popular

Blogroll

Total Tayangan Laman

About

Dari Mana

widget

Translate

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

EDIT DESCRIPTION HERE

Followers

Search This Blog

Memuat...

Random Posts