Kisah-kisah Jenaka dari Kaki Candi Mendut

Kisah kera menghitung buaya atau cerita kambing menipu harimau mungkin sudah pernah Anda dengar. Cerita rakyat? Bukan. Siapa menyangka kisah jenaka ini dari Candi Mendut

                                 Relief kera menghitung buaya


       Panil-panil batu yang terdapat pada kaki atau sepanjang dinding sebuah candi, selalu menarik perhatian. Ukurannya sekitar 1,5 x 0,5 meter, terbentuk dari bongkah-bongkah batu kali yang masif. Yang menarik dari batu panil itu adalah gambaran relief yang mengisi ruang panil. Di sana digambarkan berbagai adegan cerita yang diambil dari ajaran kitab suci agama Budha dan Hindu. Ada yang berisikan cerita kepahlawanan, propaganda agama, kisah kehidupan orang-orang suci, dan juga kisah fabel (cerita dengan tokoh-tokoh hewan yang bisa berbicara dengan tema ajaran moral atau kritik). Pada kaki sebuah candi Budha di Jawa Tengah, yaitu Candi Mendut, didapati beberapa panil batu yang menggambarkan berbagai adegan lucu dari bermacam-macam hewan. Relief itu menceritakan suatu kisah yang bukan sembarang kisah, karena dipetik dari kisah fabel yang terdapat dalam kitab Jataka dan Tantri Kamandaka yang berisi tamsil ibarat dan falsafah kehidupan yang dalam. Marilah kita ikuti beberapa di antaranya.


Kisah Kura-kura Terbang
       Ada suatu gambar relief yang tampak agak ganjil dan lucu. Pada panil yang berukuran 1,5 x 0,75 meter dipahatkan seekor kura-kura yang sedang menggigit sepotong kayu, dan kayu itu dibawa terbang oleh dua ekor angsa dengan cara memegangi kedua ujungnya dengan cakar mereka. Sementara itu di bawahnya dilukiskan beberapa orang yang sedang berteriak-teriak dan dua ekor anjing yang sedang menengadahkan kepalanya ke atas mungkin sedang menggonggong. Di bagian lain, masih di dalam bingkai panil yang sama, tampak orang-orang dan anjing sedang memperebutkan kura-kura yang rupanya telah terjatuh ke tanah.
Cerita kura-kura terbang dipetik dari kitab Tantri Kamandaka, sebuah kitab fabel berbahasa Jawa Kuno. Ceritanya ringan menarik dan penuh amsal, perlambang, dan pendidikan. Ringkas ceritanya sebagai berikut.
        Di sebuah danau yang permai dan jernih airnya, tinggallah seekor kura-kura. Kura-kura itu bersahabat dengan dua ekor angsa laki bini bernama Cakrangga dan Cakranggi. Persahabatan mereka telah lama dibina. Suatu ketika di musim kemarau, saat air danau mulai berkurang, Cakrangga dan Cakranggi minta diri pada sahabatnya itu untuk mengungsi ke sebuah telaga di Gunung Himawan. Air di telaga itu tidak pernah kering walau pada musim kemarau sekali pun. Sekali ini kura-kura rupanya ingin turut mengungsi. Katanya: "Bawalah aku serta. Di sini aku akan sengsara karena kurang air." Masalahnya adalah bagaimana cara kedua angsa itu membawa si kura-kura. Akhirnya mereka mengusulkan agar kura-kura menggigit sepotong kayu dan kedua angsa itu akan mencengkeram kedua ujung kayu sambil terbang. Ada satu pesan dari angsa yang harus diingat dan ditaati kura-kura selama perjalanan nanti. "Kami akan membawa terbang dirimu, kura-kura, dan kamu harus memagut kuat-kuat batang kayu itu. Ingat, janganlah berbicara apa pun. Jika ada yang menegur janganlah dijawab," demikian pesan Cakrangga dan Cakranggi.
       Segeralah mereka terbang. Kura-kura merasa kagum pada keindahan alam yang dilihatnya dari atas. Tak terasa sampailah mereka di atas sebuah ladang yang bernama Wilanggala. Di ladang itu ada dua ekor anjing jantan dan betina yang sedang bermain. Ketika mereka menengadah, tampaklah sesuatu yang ganjil, yaitu seekor kura-kura yang bergelayutan pada sepotong kayu yang sedang dibawa terbang oleh dua ekor angsa. Maka berkatalah anjing betina: "Hai, lihatlah! Ada kura-kura dibawa terbang oleh dua ekor angsa!" Menjawablah si anjing jantan: "Aneh, ya! Tampaknya ada kura-kura tolol sedang belajar terbang pada angsa. Mungkin itu bukan kura-kura, tapi kotoran kerbau kering yang berisi cacing untuk makanan anak-anak angsa." Marahlah si kura-kura mendengar percakapan kedua anjing itu. Mulutnya mulai berdenyut-denyut menahan amarah. Karena gusarnya ia tidak ingat lagi pesan angsa sahabatnya. Ia ingin menjawab ejekan itu dan dibukalah mulutnya untuk berbicara. Akibatnya bisa diduga. Tubuh gemuk si kura-kura melayang jatuh berdebam di tanah. Kedua anjing itu segera melompat memburu si kura-kura. Keduanya makan besar menikmati daging kura-kura.

                                                        Relief kura-kura terbang

        Kesimpulan kisah ini dalam kitab Tantri Kamandaka adalah demikian: "Mangkana puhara ning tan yatna ring warah maring rahayu, tan wruh kalinganya, mandeya ala, pisaningun ika masiha. Kewala ikang ujar ing mitra haywa gya-gya wawarengon." Artinya kira-kira demikian: "Demikianlah akhirnya jika tidak memperhatikan nasihat dari kawan baik, dan tidak memahami maksud yang tersirat. Hal itu akan membuat celaka. Dan perlu pula diingat jangan cepat-cepat menerima kata-kata orang begitu saja untuk ditanggapi."
 
Muslihat Seekor Kambing
       Pada bagian kaki candi Mendut ada sebuah panil relief yang menggambarkan adegan ganjil yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Di situ tampak seekor harimau yang lari menghindari seekor kambing. Sementara di pinggang harimau melilit seutas tali yang menyambung dan terikat pada pinggang seekor monyet. Monyet itu terseret berguling-guling terbawa lari harimau. Mimik wajah harimau sangat ketakutan sambil menoleh ke arah kambing. Si kambing digambarkan sedang berdiri dengan tenangnya. Di sekitar binatang-binatang itu digambarkan tanaman sulur-suluran yang berdaun lebat, juga ada burung yang sedang terbang. Agaknya hendak menunjukkan suasana hutan di mana adegan itu berlangsung. Gambaran yang ada pada relief itu diambil dari kitab Jataka yang mempunyai padanan yang sama dalam kisah dalam kitab Tantri Kamandaka.
       Tersebutlah ada seekor kambing betina bernama Mesaba dengan anaknya. Mereka sedang bercengkerama di tepi hutan menghirup udara segar, sambil menikmati rumput muda. Tanpa sepengetahuan mereka, ada sepasang mata buas harimau yang telah lama mengawasinya. Harimau itu bernama Warani. Ia telah lama berkeliaran di dalam hutan mencari binatang yang akan dimangsanya. Sampai akhirnya ia melihat seekor induk kambing dengan anaknya sedang merumput dengan asyik. Pikir harimau: "Hai, ini dia makanan bagiku." Untuk beberapa lama ia mengintai mengatur strategi. Lalu mendekatlah harimau itu sambil berkata: "Eh, sedang apa kalian berkeliaran di wilayah kekuasaanku? Akan kuhukum kau dan kuantarkan ke kerajaan Sang Yama (Dewa Maut) karena telah sembarangan datang ke tempat ini." Namun si induk kambing tidak tampak takut, bahkan ia berani menjawab: "Harimau, tak tahukah engkau, bahwa telah sepuluh ekor macan yang yang kumakan? Aku dapat mengeluarkan api setinggi menara dan membakar matahari terik itu. Apalagi cuma seekor macan macam kau. Tunggulah, rasakan kesaktianku ini." Mendengar bualan kambing itu, harimau merasa ngeri, dan akhinya buru-buru lari menghindar.
       Seekor kera melihat harimau itu lari ketakutan, lalu bertanya: "Mengapa kau lari terbirit-birit, Warani?" Diceritakan oleh Warani bahwa ia bertemu dengan seekor kambing yang sakti, meski tidak sesakti Siwa (Dewa tertinggi penguasa alam), tapi cukup membuatnya keder. Tahulah si kera bahwa kedua kambing itu adalah bekas sahabatnya, Maseba beserta anaknya. Kera menganjurkan kepada Warani untuk mendatangi Maseba lagi dan membuktikan kesaktian Maseba, tapi harimau menolak. Akhirnya kera berkata: "Jika kau takut, aku akan menemanimu. Ambillah tali untuk mengikat pinggang kita berdua. Dengan demikian segala bahaya akan kita hadapi bersama." Demikianlah mereka berdua berjalan berlambat-lambat mendatangi kedua kambing itu. Kedatangan mereka segera diketahui Maseba dan anaknya. Anak kambing itu sangat ketakutan, namun induknya dapat membujuknya agar tetap tenang. "Eh kera, selamat datang! Untunglah engkau masih ingat akan janjimu dahulu ketika kau kalah taruhan denganku. Katamu kau sanggup menyerahkan dua ekor harimau untuk santapanku. Sekarang kau datang hanya membawa seekor. Tak apalah. Bawa kemari biar cepat kukunyah habis!" Dengan sangat ketakutan harimau berpikir: "Oh, rupanya aku dibawa kemari untuk membayar hutang. Lebih baik aku segera menyelamatkan diri!" Maka larilah harimau itu. Kera yang terikat pinggangnya terbawa terseret-seret. Karena terburu-buru, harimau terperosok ke dalam jurang, terbanting pada dasar jurang. Si kera pun turut terbawa masuk jurang sehingga matilah mereka berdua. Mesaba segera mengajak anaknya pergi dari tempat itu, takut bersua dengan harimau lain yang lebih ganas dan tidak mudah ditipu.

Kisah Kutu dan Kepinding
       Ada seekor kutu yang gemuk bernama Asada. Dia tinggal di tilam seorang raja dan merasa betah di sana sehingga tidak pernah terpikir untuk meninggalkan tempat itu. Sementara itu di celah-celah dinding kamar tempat Sang Raja beristirahat, terdapat seekor kepinding, Candila namanya. Candila merasa heran melihat hidup Asada yang tampaknya makmur. Maka didatangilah si Asada, dan katanya: "Wahai Asada, ingin saya bertanya kepadamu, mengapa hidupmu begitu makmur? Tubuhmu gemuk sehat, tampaknya kamu banyak makan. Coba lihat diriku yang kurus kering karena selalu kekurangan makan. Makanan hanya kuperoleh jika ada orang yang bersandar di dinding. Itu pun hanya sekejap. Tolonglah, Asada, beritahukan rahasia kemakmuran hidupmu." Menyahutlah kutu Asada: "Hai kepinding, rahasia kemakmuran hidupku sebenarnya tidak ada, hanya aku mencari makan dengan memperhatikan prinsip kaladesa (waktu dan tempat). Karena aku tinggal di kasur Raja, tentunya yang kuhisap adalah darah Raja. Tapi dalam mencari makan itu, aku selalu berpegang pada ketentuan tadi. Desa berarti tempat, maksudnya tempatku sekarang ini sudah cukup baik untuk mencari makan dan tidak mau meninggalkan tempatku, yaitu peraduan Sang Raja. Kala artinya waktu, aku akan memilih waktu yang tepat dalam menjalankan aksi mencari makan. Waktu Sri Baginda sudah lelap tidur, nah, saat itulah aku mulai beraksi menghisap darahnya sepuasnya. Namun jika kesempatan itu tidak ada, lebih baik aku tidak makan, sampai satu malam, dua malam, bahkan lebih lagi. Aku selalu menunggu kesempatan yang terbaik dan tidak terburu-buru menuruti hawa nafsu."
       Demikianlah uraian hidup makmur si Asada kepada Candila. Akhirnya diperbolehkannya Candila bertempat tinggal di tilam sang Raja. Pada suatu hari Raja berkesempatan untuk beristirahat pada siang hari. Si kepinding merasa telah mendapat kesempatan yang baik. Dilihatnya paha raja yang keputih-putihan menimbulkan hasratnya untuk segara menggigit dan menghisap darahnya. Tetapi maksud itu dicegah oleh kutu. "Jangan tergesa-gesa sahabat, bukan kesempatan baik saat ini. Sabarlah sampai nanti malam dan saat itu kau boleh makan sepuasnya." Nampaknya Candila tidak mengindahkan nasihat sahabatnya. Jiwanya telah dipenuhi nafsu terburu-buru. Ia bersikeras pada kehendaknya, karena sangat lapar. Maka digigitlah paha Sang Raja. Sang Raja terkejut dan terbangun lalu diperintahkannya para pengawal untuk mencari kepinding yang menggigit pahanya. Dicarilah tempat persembunyiannya, tapi tidak ditemukan, karena ia dengan cepat telah menyelinap ke celah-celah anyaman. Malahan yang ditemukan adalah kutu Asada lalu dibunuhlah kutu itu. Si kepinding terus dicari, tak berapa lama ia pun ditemukan dan dibunuh.
       Akhir cerita itu dicatat dalam kitab Tantri Kamandaka dalam bahasa Jawa Kuno sebagai berikut: "....ikang wang pamasrayan, tan wruh abecikan ing amarasraya, wyakti anemu dukha satata..." (....barang siapa memberi perlindungan tanpa mengetahui baik buruknya yang dilindungi, pasti menemukan kesusahan....). Tapi tamsil ibarat yang nyata dalam cerita ini adalah prinsip kaladesa tersebut, yaitu dalam mencari rezeki atau mencari kehidupan, hendaknya diperhatikan tempat dan waktu yang memungkinkan.


                                                      Candi Mendut



Relief sebagai Sarana Pendidikan
       Ajaran yang bersifat mendidik itu telah lama dikenal oleh nenek moyang kita. Agar segala ajaran baik tentang kecerdikan, tingkah laku, dan nasihat-nasihat mudah diserap oleh masyarakat, maka dipahatkanlah pada dinding candi-candi tempat beribadat. Kisahnya dibuat beragam, antara lain fabel yang bisa diterima oleh anak-anak maupun orang dewasa. Kisah-kisah yang mengambil tokoh hewan tidak saja dijumpai pada panil candi, tetapi juga digambarkan pada benda-benda lain. Di Museum Nasional Jakarta terdapat suatu koleksi berupa lencana pajangan terbuat dari lempengan emas yang berukuran lebar 12 cm, ditemukan dari daerah Kediri dan diperkirakan berasal dari abad ke-14. Salah satu lencana menggambarkan dua ekor monyet yang sedang menyeberangi genangan air sambil mengangkut batu-batu di atas kepala mereka. Namun kegiatan mereka terganggu dengan munculnya kepiting yang hendak menjepit mereka. Kedua ekor monyet itu menjerit sambil meloncat-loncat. Adegan itu tampak lucu. Kisahnya dipetik dari epik Ramayana, ketika para kera membantu usaha pembuatan jembatan yang menghubungkan Jambhudwipa (India) dengan Alengka (Srilangka). Sedangkan kisah Ramayana yang lengkap dipahatkan pada candi Prambanan (Jawa Tengah) dan candi Penataran (Jawa Timur). Kemungkinan besar lencana pajangan itu diperuntukkan bagi anak-anak bangsawan Jawa Kuno dulu. Moral yang diajarkannya adalah tentang kisah kegagahan bala tentara monyet dalam membela pihak yang benar, yaitu Rama yang berusaha merebut kembali istrinya yang dilarikan Rawana ke Alengka.
        Demikianlah salah satu cara nenek moyang kita dalam mengajarkan moral kepada masyarakat dan keturunannya, yaitu dengan memahat relief-relief pada dinding candi-candi dan benda-benda lain.

Oleh Agus Aris Munandar

0 komentar:

Poskan Komentar

About this blog

Aku memandang suka dan duka
Berganti-ganti di dalam hati

Apa gerangan masa di muka
Jadi bangsa yang kucinta ini
Adakah tanda megah kembali
(Sanusi Pane, Puspa Mega)

My Blog List

Consectetuer

Popular

Blogroll

Total Tayangan Laman

About

Dari Mana

widget

Translate

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

EDIT DESCRIPTION HERE

Followers

Search This Blog

Memuat...

Random Posts